Jatibeningcorpsegrinder’s Weblog

December 30, 2008

Turunnya tarif telekomunikasi terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masayarakat Indonesia.

Filed under: Uncategorized — jatibeningcorpsegrinder @ 6:50 pm

Entah karena mendengarkan himbauan pemerintah untuk menurunkan tarif komunikasi seluler atau karena motif ekonomi, atau juga menurunkan tarif untuk menarik pelanggan sebanyak-banyaknya. Yang pasti, tarif komunikasi seluler telah diturunkan oleh operator. Walaupun sebenarnya tarif tersebut masih bisa diturunkan. Kalau membaca berita koran, majalah, tabloid, atau di media lain, motif menurunkan tarif seluler karena operator ingin meningkatkan loyalitas dan pertumbuhan jumlah pelanggan. Selain itu juga karena adanya persaingan antar operator untuk menarik minat pelanggan maupun calon pelanggan. Ironisnya, pertumbuhan pelanggan tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas layanan. Jaringan sering mengalami gangguan, sulit melakukan panggilan, sering putus ketika menelepon, atau bahkan gangguan saat mengirim dan menerima SMS.

Saat ini, semua lapisan masyarakat telah menikmati layanan telekmunikasi. Tidak terkecuali masyarakat di pedesaan yang bahkan sarana dan prasarana transportasinya belum memadai. Tua, muda dan bahkan anak-anak juga bisa menikmati layanan telekomunikasi. Tradisi berkunjung ke sanak saudara, tetangga, teman, rekan bisnis dan lain-lain telah tergantikan dengan tegur sapa dan menanyakan kabar dengan menggunakan sarana telekomunikasi. Para pengusaha menggunakan sarana telekomunikasi untuk membicarakan bisnis dan kerja sama. Atasan berkoordinasi dengan bawahannya dengan telekomunikasi. Di bidang pendidikan, telekomunikasi untuk menambah pengetahuan melalui internetnya.

Sebagai produk teknologi, telekomunikasi menjelma sebagai satu kebutuhan pokok manusia modern. Telekomunikasi bukan lagi barang mewah. Anak Sekolah Dasar (SD) sekarang sudah mempunyai handphone berkamera dan fitur komplit, temannya yang tidak punya merengek-rengek pada orang tuanya untuk dibelikan handphone seperti milik temannya. Pencari rumput dan pengembala ternak juga sudah memiliki handphone. Itulah sedikit contoh. Yang dulu tidak biasa kini menjadi biasa.

Apakah ini semua adalah dampak dari penurunan tarif telekomunikasi ? Sejujurnya, tidak. Semakin banyak orang menggunakan sarana telekomunikasi bukan karena tarif yang murah tapi karena kebutuhan. Kebutuhan jasmani dan rohani. Kebutuhan rohani contohya, orang memiliki sambungan telepon karena ingin menunjukkan kalau dirinya orang berkelas, orang memiliki handphone berfitur canggih dan terbaru karena ingin dianggap selalu mengikuti kecanggihan teknologi dan trend. Kebutuhan jasmani contohnya, orang memasang telepon atau membeli handphone karena memang butuh untuk memudahkan dirinya berkomunikasi dengan keluarga, saudara, teman, tetangga, dan rekan bisnis yang jauh jaraknya.

Turunnya tarif telekomunikasi hanya berpengaruh pada intensitas penggunaan telekomunikasi menjadi meningkat, sementara bertambahnya pengguna telekomunikasi dikarenakan makin murah handphone atau sarana telekomunikasi lain.

Sebenarnya masyarakat malah dibikin bingung mengenai tarif telekomunikasi, khususnya komunikasi via seluler. Faktanya, seseorang bisa memiliki beberapa kartu walaupun dia hanya punya satu handphone. Untuk SMS pakai kartu ini, untuk telepon pakai kartu itu. Jadi kalau operator seluler mengklaim kalau pelanggannya bertambah itu adalah dari pelanggan yang masih bingung mau menggunakan operator yang mana.

Turunnya tarif telekomunikasi terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masayarakat Indonesia.

Filed under: Uncategorized — jatibeningcorpsegrinder @ 6:25 pm
Tags:

Entah karena mendengarkan himbauan pemerintah untuk menurunkan tarif komunikasi seluler atau karena motif ekonomi, atau juga menurunkan tarif untuk menarik pelanggan sebanyak-banyaknya. Yang pasti, tarif komunikasi seluler telah diturunkan oleh operator. Walaupun sebenarnya tarif tersebut masih bisa diturunkan. Kalau membaca berita koran, majalah, tabloid, atau di media lain, motif menurunkan tarif seluler karena operator ingin meningkatkan loyalitas dan pertumbuhan jumlah pelanggan. Selain itu juga karena adanya persaingan antar operator untuk menarik minat pelanggan maupun calon pelanggan. Ironisnya, pertumbuhan pelanggan tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas layanan. Jaringan sering mengalami gangguan, sulit melakukan panggilan, sering putus ketika menelepon, atau bahkan gangguan saat mengirim dan menerima SMS.

Saat ini, semua lapisan masyarakat telah menikmati layanan telekmunikasi. Tidak terkecuali masyarakat di pedesaan yang bahkan sarana dan prasarana transportasinya belum memadai. Tua, muda dan bahkan anak-anak juga bisa menikmati layanan telekomunikasi. Tradisi berkunjung ke sanak saudara, tetangga, teman, rekan bisnis dan lain-lain telah tergantikan dengan tegur sapa dan menanyakan kabar dengan menggunakan sarana telekomunikasi. Para pengusaha menggunakan sarana telekomunikasi untuk membicarakan bisnis dan kerja sama. Atasan berkoordinasi dengan bawahannya dengan telekomunikasi. Di bidang pendidikan, telekomunikasi untuk menambah pengetahuan melalui internetnya.

Sebagai produk teknologi, telekomunikasi menjelma sebagai satu kebutuhan pokok manusia modern. Telekomunikasi bukan lagi barang mewah. Anak Sekolah Dasar (SD) sekarang sudah mempunyai handphone berkamera dan fitur komplit, temannya yang tidak punya merengek-rengek pada orang tuanya untuk dibelikan handphone seperti milik temannya. Pencari rumput dan pengembala ternak juga sudah memiliki handphone. Itulah sedikit contoh. Yang dulu tidak biasa kini menjadi biasa.

Apakah ini semua adalah dampak dari penurunan tarif telekomunikasi ? Sejujurnya, tidak. Semakin banyak orang menggunakan sarana telekomunikasi bukan karena tarif yang murah tapi karena kebutuhan. Kebutuhan jasmani dan rohani. Kebutuhan rohani contohya, orang memiliki sambungan telepon karena ingin menunjukkan kalau dirinya orang berkelas, orang memiliki handphone berfitur canggih dan terbaru karena ingin dianggap selalu mengikuti kecanggihan teknologi dan trend. Kebutuhan jasmani contohnya, orang memasang telepon atau membeli handphone karena memang butuh untuk memudahkan dirinya berkomunikasi dengan keluarga, saudara, teman, tetangga, dan rekan bisnis yang jauh jaraknya.

Turunnya tarif telekomunikasi hanya berpengaruh pada intensitas penggunaan telekomunikasi menjadi meningkat, sementara bertambahnya pengguna telekomunikasi dikarenakan makin murah handphone atau sarana telekomunikasi lain.

Sebenarnya masyarakat malah dibikin bingung mengenai tarif telekomunikasi, khususnya komunikasi via seluler. Faktanya, seseorang bisa memiliki beberapa kartu walaupun dia hanya punya satu handphone. Untuk SMS pakai kartu ini, untuk telepon pakai kartu itu. Jadi kalau operator seluler mengklaim kalau pelanggannya bertambah itu adalah dari pelanggan yang masih bingung mau menggunakan operator yang mana.

Nyi Roro Kidul dan Risiko Bencana Tsunami

Filed under: Uncategorized — jatibeningcorpsegrinder @ 6:12 pm
Tags:

Nyi Roro Kidul dan Risiko Bencana Tsunami

Oleh Sapto HP

Jakarta (ANTARA News) – Peneliti tsunami dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) DR Eko Yulianto mengaku penasaran pada cerita Nyi Roro Kidul, legenda yang menurut dia juga pernah dibahas dalam kongres paranormal di Paris pada 1980an.

Dalam pertemuan di Eropa itu, para paranormal umumnya tertarik pada fakta bahwa legenda itu berkembang di kalangan masyarakat sepanjang selatan Indonesia, bukan hanya pantai selatan Jawa. Suatu kawasan yang sangat panjang. Itu pula yang menjadikan peneliti “paleotsunami” (tsunami purba) itu penasaran pada legenda tersebut.

Menurut Eko, kawasan tempat mukim masyarakat yang mewarisi legenda Nyi Roro Kidul itu, yang dikenal sebagai kawasan pantai selatan, berhadapan dengan Samudera Indonesia, yaitu daerah zona subduksi lempeng bumi.

Subduksi ialah proses menghujamnya lempeng benua yang bermassa lebih besar ke lempeng benua yang ada di bawahnya. Proses subduksi yang berlangsung terus-menerus itu yang menciptakan negeri kepulauan Indonesia beserta kesuburannya.

Tapi, proses itu pula yang memberikan berbagai bencana, letusan gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami.

Dalam kaitan itu, Eko memperlihatkan lukisan Nyi Roro Kidul yang merekam legenda tersebut. Di sana digambarkan seorang ratu yang mengendalikan kereta kuda dalam balutan ombak besar yang bergulung-gulung.

“Jangan-jangan legenda itu sebenarnya pesan bahwa pernah ada tsunami di sana?” katanya.

Itu dikuatkan dengan legenda ratu pantai selatan tersebut yang digambarkan sering meminta tumbal dengan mengirimkan ombak besar jauh ke daratan. Kemudian, sebagian korbannya dikirim kembali ke darat sebagai pesan dari Nyi Roro Kidul. Persis kejadian tsunami.

Bagi Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Herry Harjono, mengaitkan legenda Nyi Roro Kidul dengan sejarah tsunami merupakan ide “aneh” yang berpotensi untuk mengungkap sejarah kejadian tsunami. Dia mengatakan, bantuan ilmuwan sosial untuk mengungkap asal-muasal legenda itu juga diyakini bisa membantu penelitian sejarah kejadian tsunami.

“Pikiran yang sekarang berkembang ialah, boleh jadi pernah ada kejadian besar yang sangat membekas masyarakat jaman dahulu. Kejadian itu terekam dalam legenda Nyi Roro Kidul,” katanya dalam sebuah workshop paleotsunami, di Bandung.

Persoalan yang ingin diungkap dalam paleotsunami, antara lain sejarah terjadinya tsunami dan berapa besarannya. Untuk itu, menurut Herry, ada pertanyaan yang ingin diungkap, “Kapan legenda itu mulai berkembang?”

Kisah seperti itu, misalnya, akan memperkuat hasil penelitian geologi yang mencari jejak tsunami purba. Misalnya mengenai bukti gempa dan endapan tsunami yang terjadi pada 400 tahun lalu di Cilacap dan Pangandaran yang diyakini jauh lebih besar ketimbang yang terjadi pada 2006.

Dalam sebuah poster yang dipamerkan di workshop disebutkan, empat kandidat endapan tsunami ditemukan di tebing sungai Cimbulan Pangandaran. Salah satunya berupa lapisan pasir tebal hingga 20 cm yang diendapkan di atas lumpur mangrove dan ditutupi endapan banjir.

Pasir itu mengandung cangkang “fora minifera” yang biasanya hidup di laut lepas. Analisis pentarikhan umur terhadap dua sampel yang diambil dari dua tempat berbeda menunjukkan lapisan pasir tsunami itu diendapkan 400 tahun lalu.

“Mungkinkah kejadian tsunami ini terkait dengan asal mula legenda Nyi Roro Kidul?” demikian pertanyaan dalam buku berjudul “Selamat dari Bencana Tsunami” yang berkisah tentang orang-orang yang sintas dari tsunami Aceh dan Pangandaran.

Buku itu juga membahas sejumlah cerita tradisional yang diyakini terkait dengan peristiwa tsunami.

Bagi Herry, dukung-mendukung ilmuwan sosial dan peneliti geologi itu suatu saat akan memberikan hasil yang bisa memberikan data untuk menjawab pertanyaan “seberapa sering tsunami terjadi di pantai selatan?”

Jawaban atas pertanyaan itu akan memberikan banyak konsekwensi, setidaknya bisa mengubah pandangan hidup masyarakat di kawasan itu bahwa mereka hidup dalam daerah yang rawan tsunami?

Kalau itu tercipta, maka masyarakat akan mudah diajak untuk hidup akrab dengan tsunami, mudah mengajak mereka untuk selalu bersiaga menghadapi bencana, hingga mudah untuk mengajari mereka untuk melakukan tindakan penyelamatan diri dengan benar ketika bencana itu akhirnya tiba.

Pengetahuan lokal

Bagi Eko, memperlakukan legenda sebagai pesan dari nenek moyang mengenai tsunami juga mengangkat kembali harkat legenda itu dari berbagai bungkus yang selama ini menutupinya.

Soalnya, kata dia, banyak cerita turun-temurun di sejumlah daerah, yang jika dicermati, bisa dicocokkan dengan kejadian tsunami. Dari perjalanannya ke sejumlah daerah yang pernah dilanda tsunami, dia mendapati cerita yang sebenarnya merupakan pengetahuan lokal untuk menyelamatkan diri dari bencana terjangan gelombang besar.

Dia menemukan itu mulai dari Majene, Lombok, Mentawai, dan Simeulue, walaupun yang masih mengingat pengetahuan tradisional itu sebagai kiat untuk menyelamatkan diri dari terjangan tsunami itu hanya di Simeuleu.

Pengetahuan itu disebut oleh masyarakat setempat sebagai “smong”.

Bagi peneliti tsunami, Simeulue, pulau di barat daya Aceh, merupakan laboratorium sempurna mengenai tsunami. Di sana, peneliti mendapati banyak endapan tsunami, catatan gempanya lengkap, dan ada pesan nenek moyang tentang tsunami yang terus dipatuhi masyarakatnya.

Dalam buku “Selamat dari Bencana Tsunami” disebutkan bahwa Pulau Simeulue berada paling dekat dengan pusat gempa bumi 26 Desember 2004. Namun hanya tujuh orang yang meninggal akibat sapuan gelombang tsunami. Itu berkat “smong”.

“Smong” memuat pesan sederhana, namun masih dipatuhi warga Simeulue. Pesan itu berbunyi: “Jika terjadi gempa bumi kuat diikuti oleh surutnya air laut, segeralah lari ke gunung karenair laut akan naik”.

Pengetahuan tradisional itu muncul setelah tsunami 1907. Disebutkan, seringnya tsunami sebelum 1907 di pulau itu memiliki andil bagi bersemainya pengetahuan tersebut. Catatan sejarah dan penelitian geologi menunjukkan pulau itu terlanda tsunami pada 1797, 1861, dan 1907.

Menurut dia, pengetahuan serupa juga dimiliki masyarakat Mentawai, Sumetera Utara.

Banyak orang di pulau itu yang masih hafal pengetahuan yang diturunkan dalam bentuk syair. Namun, syair itu umumnya tidak lagi dipahami sebagai warisan untuk menghadapi tsunami.

Itu karena kata “teteu”, judul syair tersebut, diartikan sebagai “kakek”, walau bisa juga diartikan sebagai “gempa bumi”.

Jika diartikan dalam bahasa Indonesia, syair itu berbunyi: Teteu, sang tupai bernyanyi/Teteu, suara gemuruh datang dari atas bukit-bukit/ Teteu, ada tanah longsor dan kehancuran/Teteu dari ruh kerang laut sedang marah/karena pohon baiko telah ditebang/Burung kuliak bernyanyi/Ayam- ayam berlarian/Karena di sana teteu telah datang/Orang- orang berlarian.

Di sana, kata “teteu” lebih diartikan sebagai “kakek”, sehingga maknanya jauh dari bencana. Sedangkan, jika “teteu” diganti dengan “gempa bumi”, maknanya akan lebih kuat.

Terbungkusnya pesan inti yang terkandung dalam pengetahuan lokal di Mentawai itu disebut sebagai kecenderungan yang ada di banyak daerah. Salah satu faktornya, tidak ada catatan yang bisa diwariskan oleh generasi yang lahir jauh hari setelah tsunami terjadi.

Apalagi, tsunami raksasa umumnya terjadi ratusan tahun sekali, sehingga cerita turun-temurun yang diwariskan berubah menjadi legenda yang penafsirannya bisa berbeda dari maksud semula. Ketika tsunami raksasa datang suatu kali, tidak ada lagi orang yang pernah mengalaminya, sehingga syair turun-temurun itu diturunkan sekadar warisan.

Menurut Eko, mengaitkan pengetahuan lokal dengan penelitian tsunami purba merupakan kesengajaan yang dilakukannya. Soalnya, selama ini catatan sejarah yang dimiliki Indonesia sangat pendek, dan tidak ada catatan yang menyebut gelombang raksasa yang terjadi 400 tahun lalu, misalnya. Yang banyak ditemukan justru cerita turun-temurun yang bisa ditafsirkan sebagai pesan tentang tsunami.

Dengan mengumpulkan dan mempelajari pengetahuan tradisional, diharapkan membantu analisis kejadian tsunami di masa lalu.

Mengetahui tsunami masa lalu, katanya, akan membantu masyarakat sekitar untuk bereaksi secara tepat ketika menghadapi bencana serupa pada masa datang.

Eko mengatakan, penelitian tsunami di Meulaboh dan Thailand selatan menghasilkan temuan yang mengejutkan. Temuan yang dipublikasikan secara bersamaan dalam terbitan jurnal ilmiah internasional “Nature” edisi Oktober itu menunjukkan bahwa tsunami raksasa serupa dengan yang terjadi pada 2004 pernah terjadi di Aceh beberapa ratus tahun yang lalu.

Seandainya temuan itu sudah terungkap sebelum tahun 2004, katanya, maka usaha untuk menekan jumlah korban jiwa dan kerugian mungkin dapat dilakukan.

Untuk menekan kerugian seperti itu pula, menurut Eko, upaya penelitian paleotsunami harus ditingkatkan kapasitasnya. Upaya itu tidak lain untuk mengambil pelajaran dari kejadian masa lalu, termasuk dari penggalian daerah tsunami dan pengetahuan tradisional yang melingkupinya,

Menurut dia, selama ini penelitian serupa tidak sebanding dengan jumlah tsunami yang pernah terjadi di negeri ini. Hal itu bisa dilihat dari jumlah peneliti yang terjun dalam penelitian tsunami yang masih sedikit.

Maka, selain menggali tanah di daerah-daerah yang pernah dilanda tsunami untuk mencari bukti tsunami purba, Eko pun rajin menggali cerita lokal, yang mungkin ada kaitannya dengan gelombang besar yang senang masuk ke daratan itu. (*)

COPYRIGHT © 2008
Original Source :http://www.antara. co.id/arc/ 2008/11/13/ nyi-roro- kidul-dan- risiko-bencana- tsunami/

Ditulis dalam Opini, Sejarah, Tokoh | Tag: legenda, nyi roro kidul, tsunami

Misteri Borobudur

Filed under: Uncategorized — jatibeningcorpsegrinder @ 6:07 pm
Tags:

Tidak bisa dipungkiri bahwa Borobudur merupakan salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Dan inipun sudah diakui dunia dengan memasukkan Borobudur sebagai salah satu bagian 7 keajaiban dunia bersanding dengn Piramid Mesir dan Tembok Besar China.

Sampai saat ini ada beberapa hal yang masih menjadi bahan misteri seputar berdirinya Candi Borobudur, misalnya dalam hal susunan batu, cara mengangkut batu dari daerah asal sampai ke tempat tujuan, apakah batu-batu itu sudah dalam ukuran yang dikehendaki atau masih berupa bentuk asli batu gunung, berapa lama proses pemotongan batu-batu itu sampai pada ukuran yang dikehendaki, bagaimana cara menaikan batu-batu itu dari dasar halaman candi sampai ke puncak, alat derek apakah yang dipergunakan? Mengingat pada masa itu belum ada gambar biru (blue print), lalu dengan sarana apakah mereka itu kalau hendak merundingkan langkah-langkah pengerjaan yang harus dilakukan, dalam hal gambar relief, apakah batu-batu itu sesudah bergambar lalu dipasang, atau batu dalam keadaan polos baru dipahat untuk digambar. Dan mulai dari bagian mana gambar itu dipahat, dari atas ke bawah atau dari bawah ke atas? Dan masih banyak lagi misteri yang belum terungkap secara ilmu pengetahuan, terutama tentang ditemukannya ruang pada stupa induk candi.

Saya sempat berpikiran bahwa Pak Gunadharma tidak membangun Borobudur tapi “hanya” memugar dan menata ulang konstruksi Borobudur yang kemungkinan ada beberapa bagiannya yang sudah rusak karena faktor alam.

Dari Wikipedia ada catatan mengenai tahap “pembangunan” Borobudur ini.

Tahap Pertama

Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan antara 750 dan 850 M). Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.

Tahap Kedua

Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.

Tahap Ketiga

Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.

Tahap Keempat

Ada perubahan kecil seperti pembuatan relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu.

Merujuk pada belum pastinya masa “pembangunan” Borobudur dikarenakan tidak adanya prasasti atau bukti-bukti tertulis, menyebabkan Borobudur masih penuh kegelapan. Perkiraan pembangunan Borobudur dilandasi pada petunjuk corak bangunan candi dan ukir-ukirannya yang menunjukkan corak Jawa Tengah abad 8 M. Terdapatnya tulisan pada relief di sudut tenggara digolongkan sebagai tulisan Jawa Kuno, peralihan dari tulisan huruf Pallawa di India. Tulisan Jawa Kuno berkembang pada abad 7-9 M. Meskipun hal ini masih menjadi perebatan, yaitu mengenai sosok Aji Saka apakah benar sebagai penemu Huruf Jawa atau hanya sesorang yang memberikan tanda baca bagi Huruf Jawa agar mudah dibaca bagi orang selain Jawa. Perlu diketahui bahwa cara penulisan Huruf Jawa yang asli adalah “telanjang” tanpa adanya tanda baca seperti terdapat dalam kitab Jayabaya.

Satu lagi yang membedakan Borobudur dan candi-candi Jawa Tengah pada umumnya dengan candi-candi yang terdapat di Jawa Timur maupun daerah Indonesia yang lainnya adalah bahan bangunannya. Borobudur disusun dari batuan andesit sedangkan candi di Jawa Timur disusun dari bata merah. Namun penjealsan tentang hal ini saya dapatkan dari milist IAGI, ahli-ahli Geologi Indonesia sering berkumpul disini, adalah Pak Awang Styana yang mempunyai pemikiran sbb :

Semeru tak seaktif Merapi, maka lebih banyak andesit dimuntahkan Merapidaripada Semeru, sehingga jelas lebih banyak batu andesit di sekitar pusat2kerajaan Buddha-Hindu. Itulah yang jadi bahan baku candi2 di Jawa Tengah. Inibelum termasuk muntahan andesit dari Merbabu, Sundoro, dan Sumbing di ex Kresidenan Kedu. Maka, tak kurang dari 50 candi besar kecil ditemukan di dataran tinggi ini. Dan, sampai zaman Mataram Hindu, pusat kerajaan ada di Jawa Tengah, bukan di Jawa Timur. Mereka banyak mendirikan candi2. Setelah itu, abad ke-12, pusat kerajaan bergeser ke Jawa Timur menuju Kediri lalu Majapahit di sekitar Trowulan Mojokerto sekarang.

Bukan berarti saya menafikan teknologi dan budaya nenek moyang yang mungkin sudah dimiliki dalam “membangun” Borobudur, sama seperti pertanyaan para ahli tentang bagaimana bangsa Mesir membangun Piramid. Andai kata benar seperti itu, bisa kita bayangkan betapa tinggi teknologi dan budaya yang telah dkuasai nenek moyang kita tersebut. Terlepas dari bagaimama Borobudur di bangun, sebagai pewaris sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga dan melestarikannya.

Ditulis dalam Sejarah | Tag: borobudur, arsitektur, bangunan, mister

SIAPAKAH ORANG BATAK ?

Filed under: Uncategorized — jatibeningcorpsegrinder @ 6:03 pm

Orang Batak terdiri dari 5 sub etnis yang secara geografis dibagi sbb:

1. Batak Toba (Tapanuli), mendiami Kabupaten Toba Samosir, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah mengunakan Bahasa Batak Toba.
2. Batak Simalungun, mendiami Kabupaten Simalungun dan menggunakan Bahasa Batak Simalungun.
3. Batak Karo, mendiami Kabupaten Karo dan menggunakan Bahasa Batak Karo.
4. Batak Mandailing, mendiami Kabupaten Tapanuli Selatan dan menggunakan Bahasa Batak Mandailing.
5. Batak Pakpak, mendiami Kabupaten Dairi dan menggunakan Bahasa Pakpak.

Suku Nias yang mendiami Kabupaten Nias (Pulau Nias) mengatakan bahwa mereka bukanlah orang Batak karena nenek moyang mereka bukan berasal dari Tanah Batak. Namun demikian, mereka mempunyai marga-marga seperti halnya orang Batak.

DALIHAN NA TOLU, TOLU SAHUNDULAN

(The Philosophy of Life)

Sistem kekerabatan orang Batak menempatkan posisi seseorang secara pasti sejak dilahirkan hingga meninggal dalam 3 posisi yang disebut DALIHAN NA TOLU (bahasa Toba) atau TOLU SAHUNDULAN (bahasa Simalungun).

Dalihan dapat diterjemahkan sebagai “tungku” dan “sahundulan” sebagai “posisi duduk”.

Keduanya mengandung arti yang sama, 3 POSISI PENTING dalam kekerabatan orang Batak, yaitu:

1. HULA HULA atau TONDONG, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di atas”, yaitu keluarga marga pihak istri sehingga disebut SOMBA SOMBA MARHULA HULA yang berarti harus hormat kepada keluarga pihak istri agar memperoleh keselamatan dan kesejahteraan.
2. DONGAN TUBU atau SANINA, yaitu kelompok orang-orang yang posisinya “sejajar”, yaitu: teman/saudara semarga sehingga disebut MANAT MARDONGAN TUBU, artinya menjaga persaudaraan agar terhindar dari perseteruan.
3. BORU, yaitu kelompok orang orang yang posisinya “di bawah”, yaitu saudara perempuan kita dan pihak marga suaminya, keluarga perempuan pihak ayah. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari disebut ELEK MARBORU artinya agar selalu saling mengasihi supaya mendapat berkat.

Dalihan Na Tolu bukanlah kasta karena setiap orang Batak memiliki ketiga posisi tersebut: ada saatnya menjadi Hula hula/Tondong, ada saatnya menempati posisi Dongan Tubu/Sanina dan ada saatnya menjadi BORU.

Dengan dalihan Na Tolu, adat Batak tidak memandang posisi seseorang berdasarkan pangkat, harta atau status seseorang.

Dalam sebuah acara adat, seorang Gubernur harus siap bekerja mencuci piring atau memasak untuk melayani keluarga pihak istri yang kebetulan seorang Camat.

Itulah realitas kehidupan orang Batak yang sesungguhnya.Lebih tepat dikatakan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan SISTEM DEMOKRASI Orang Batak karena sesungguhnya mengandung nilai nilai yang universal.

MARGA dan TAROMBO

MARGA adalah kelompok kekerabatan menurut garis keturunan ayah (patrilineal).

Sistem kekerabatan patrilineal menentukan garis keturunan selalu dihubungkan dengan anak laki laki.

Seorang ayah merasa hidupnya lengkap jika ia telah memiliki anak laki-laki yang meneruskan marganya.

Sesama satu marga dilarang saling mengawini, dan sesama marga disebut dalam Dalihan Na Tolu disebut Dongan Tubu.

Menurut buku “Leluhur Marga Marga Batak”, jumlah seluruh Marga Batak sebanyak 416, termasuk marga suku Nias.

TAROMBO adalah silsilah, asal-usul menurut garis keturunan ayah.
Dengan tarombo seorang Batak mengetahui posisinya dalam marga.
Bila orang Batak berkenalan pertama kali, biasanya mereka saling tanya Marga dan Tarombo.
Hal tersebut dilakukan untuk saling mengetahui apakah mereka saling “mardongan sabutuha” (semarga) dengan panggilan “ampara” atau “marhula-hula” dengan panggilan “lae/tulang”.
Dengan tarombo, seseorang mengetahui apakah ia harus memanggil “Namboru” (adik perempuan ayah/bibi), “Amangboru/Makela”,(suami dari adik ayah/Om), “Bapatua/Amanganggi/Amanguda” (abang/adik ayah), “Ito/boto” (kakak/adik), PARIBAN atau BORU TULANG (putri dari saudara laki laki ibu) yang dapat kita jadikan istri, dst.

ULOS BATAK

Secara harafiah, ulos berarti selimut, pemberi kehangatan badaniah dari terpaan udara dingin.

Menurut pemikiran leluhur Batak, ada 3 (tiga) sumber kehangatan : (1) matahari, (2) api, dan (3) ulos.

Dari ketiga sumber kehangatan tersebut, ulos dianggap paling nyaman dan akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Matahari sebagai sumber utama kehangatan tidak kita peroleh malam hari, dan api dapat menjadi bencana jika lalai menggunakannya.

Dalam pengertian adat Batak “mangulosi” (memberikan ulos) melambangkan pemberian kehangatan dan kasih sayang kepada penerima ulos.

Biasanya pemberi ulos adalah orangtua kepada anak-anaknya, hula-hula kepada boru.

Ulos terdiri dari berbagai jenis dan motif yang masing-masing memiliki makna tersendiri, kapan digunakan, disampaikan kepada siapa, dalam upacara adat yang bagaimana.

Dalam perkembangannya, ulos juga diberikan kepada orang “non Batak” bisa diartikan penghormatan dan kasih sayang kepada penerima ulos.

Misalnya pemberian ulos kepada Presiden atau Pejabat diiringi ucapan semoga dalam menjalankan tugas tugas ia selalu dalam kehangatan dan penuh kasih sayang kepada rakyat dan orang-orang yang dipimpinnya.

Ulos juga digunakan sebagai busana, misalnya untuk busana pengantin yang menggambarkan kekerabatan Dalihan Natolu, terdiri dari tutup kepala (ikat kepala), tutup dada (pakaian) dan tutup bagian bawah (sarung).

HORAS!

Adalah salam khas orang Batak yang berarti selamat, salam sejahtera, yang kerap diucapkan dalam kehidupan sehari-hari bila 2 orang atau lebih bertemu.

Padanan kata horas adalah Mejuah-juah (Batak Karo, Batak Pakpak), Yahobu dari daerah Nias. Sedangkan Ahoiii! adalah salam khas daerah pesisir Melayu di Sumatera Utara.

Horas bisa juga berarti selamat jalan/datang, selamat pagi/siang/malam dan lain lain yang maknanya baik. Karena populernya kata horas, orang-orang non Batak juga sering mengucapkan kata tersebut jika bertemu dengan orang Batak.

LEGENDA SI RAJA BATAK

Konon di atas langit (banua ginjang, nagori atas) adalah seekor ayam bernama Manuk Manuk Hulambujati (MMH) berbadan sebesar kupu-kupu besar, namun telurnya sebesar periuk tanah. MMH tidak mengerti bagaimana dia mengerami 3 butir telurnya yang demikian besar, sehingga ia bertanya kepada Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta) bagaimana caranya agar ketiga telur tsb menetas.

Mulajadi Na Bolon berkata, “Eramilah seperti biasa, telur itu akan menetas!” Dan ketika menetas, MMH sangat terkejut karena ia tidak mengenal ketiga makhluk yang keluar dari telur tsb. Kembali ia bertanya kepada Mulajadi Nabolon dan atas perintah Mulajadi Na Bolon, MMH memberi nama ketiga makhluk (manusia) tsb. Yang pertama lahir diberi nama TUAN BATARA GURU, yang kedua OMPU TUAN SORIPADA, dan yang ketiga OMPU TUAN MANGALABULAN, ketiganya adalah lelaki.

Setelah ketiga putranya dewasa, ia merasa bahwa mereka memerlukan seorang pendamping wanita. MMH kembali memohon dan Mulajadi Na Bolon mengirimkan 3 wanita cantik : SIBORU PAREME untuk istri Tuan Batara Guru, yang melahirkan 2 anak laki laki diberi nama TUAN SORI MUHAMMAD, dan DATU TANTAN DEBATA GURU MULIA dan 2 anak perempuan kembar bernama SIBORU SORBAJATI dan SIBORU DEAK PARUJAR. Anak kedua MMH, Tuan Soripada diberi istri bernama SIBORU PAROROT yang melahirkan anak laki-laki bernama TUAN SORIMANGARAJA sedangkan anak ketiga, Ompu Tuan Mangalabulan, diberi istri bernama SIBORU PANUTURI yang melahirkan TUAN DIPAMPAT TINGGI SABULAN.

Dari pasangan Ompu Tuan Soripada-Siboru Parorot, lahir anak ke-5 namun karena wujudnya seperti kadal, Ompu Tuan Soripada menghadap Mulajadi Na Bolon (Maha Pencipta). “Tidak apa apa, berilah nama SIRAJA ENDA ENDA,” kata Mulajadi Na Bolon. Setelah anak-anak mereka dewasa, Ompu Tuan Soripada mendatangi abangnya, Tuan Batara Guru menanyakan bagaimana agar anak-anak mereka dikawinkan.

“Kawin dengan siapa? Anak perempuan saya mau dikawinkan kepada laki-laki mana?” tanya Tuan Batara Guru.

“Bagaimana kalau putri abang SIBORU SORBAJATI dikawinkan dengan anak saya Siraja Enda Enda. Mas kawin apapu akan kami penuhi, tetapi syaratnya putri abang yang mendatangi putra saya,” kata Tuan Soripada agak kuatir, karena putranya berwujud kadal.

Akhirnya mereka sepakat. Pada waktu yang ditentukan Siboru Sorbajati mendatangai rumah Siraja Enda Enda dan sebelum masuk, dari luar ia bertanya apakah benar mereka dijodohkan. Siraja Enda Enda mengatakan benar, dan ia sangat gembira atas kedatangan calon istrinya. Dipersilakannya Siboru Sorbajati naik ke rumah. Namun betapa terperanjatnya Siboru Sorbajati karena lelaki calon suaminya itu ternyata berwujud kadal.

Dengan perasaan kecewa ia pulang mengadu kepada abangnya Datu Tantan Debata.

“Lebih baik saya mati daripada kawin dengan kadal,” katanya terisak-isak.

“Jangan begitu adikku,” kata Datu Tantan Debata. “Kami semua telah menyetujui bahwa itulah calon suamimu. Mas kawin yang sudah diterima ayah akan kita kembalikan 2 kali lipat jika kau menolak jadi istri Siraja Enda Enda.”

Siboru Sorbajati tetap menolak. Namun karena terus-menerus dibujuk, akhirnya hatinya luluh tetapi kepada ayahnya ia minta agar menggelar “gondang” karena ia ingin “manortor” (menari) semalam suntuk.

Permintaan itu dipenuhi Tuan Batara Guru. Maka sepanjang malam, Siboru Sorbajati manortor di hadapan keluarganya.

Menjelang matahari terbit, tiba-tiba tariannya (tortor) mulai aneh, tiba-tiba ia melompat ke “para-para” dan dari sana ia melompat ke “bonggor” kemudian ke halaman dan yang mengejutkan tubuhnya mendadak tertancap ke dalam tanah dan hilang terkubur!

Keluarga Ompu Tuan Soripada amat terkejut mendengar calon menantunya hilang terkubur dan menuntut agar Keluarga Tuan Batara Guru memberikan putri ke-2 nya, Siboru Deak Parujar untuk Siraja Enda Enda.

Sama seperti Siboru Sorbajati, ia menolak keras. “Sorry ya, apa lagi saya,” katanya.

Namun karena didesak terus, ia akhirnya mengalah tetapi syaratnya orang tuanya harus menggelar “gondang” semalam suntuk karena ia ingin “manortor” juga. Sama dengan kakaknya, menjelang matahari terbit tortornya mulai aneh dan mendadak ia melompat ke halaman dan menghilang ke arah laut di benua tengah (Banua Tonga).

Di tengah laut ia digigit lumba-lumba dan binatang laut lainnya dan ketika burung layang-layang lewat, ia minta bantuan diberikan tanah untuk tempat berpijak.

Sayangnya, tanah yang dibawa burung layang-layang hancur karena digoncang NAGA PADOHA.

Siboru Deak Parujar menemui Naga Padoha agar tidak menggoncang Banua Tonga.

“OK,” katanya. “Sebenarnya aku tidak sengaja, kakiku rematik. Tolonglah sembuhkan.”

Siboru Deak Parujar berhasil menyembuhkan dan kepada Mulajadi Na Bolon dia meminta alat pemasung untuk memasung Naga Padoha agar tidak mengganggu. Naga Padoha berhasil dipasung hingga ditimbun dengan tanah dan terbenam ke benua tengah (Banua Toru). Bila terjadi gempa, itu pertanda Naga Padoha sedang meronta di bawah sana.

Alkisah, Mulajadi Na Bolon menyuruh Siboru Deak Parujar kembali ke Benua Atas.

Karena lebih senang tinggal di Banua Tonga (bumi), Mulajadi Na Bolon mengutus RAJA ODAP ODAP untuk menjadi suaminya dan mereka tinggal di SIANJUR MULA MULA di kaki gunung Pusuk Buhit.

Dari perkawinan mereka lahir 2 anak kembar : RAJA IHAT MANISIA (laki-laki) dan BORU ITAM MANISIA (perempuan).

Tidak dijelaskan Raja Ihat Manisia kawin dengan siapa, ia mempunyai 3 anak laki laki : RAJA MIOK MIOK, PATUNDAL NA BEGU dan AJI LAPAS LAPAS. Raja Miok Miok tinggal di Sianjur Mula Mula, karena 2 saudaranya pergi merantau karena mereka berselisih paham.

Raja Miok Miok mempunyai anak laki-laki bernama ENGBANUA, dan 3 cucu dari Engbanua yaitu : RAJA UJUNG, RAJA BONANG BONANG dan RAJA JAU. Konon Raja Ujung menjadi leluhur orang Aceh dan Raja Jau menjadi leluhur orang Nias. Sedangkan Raja Bonang Bonang (anak ke-2) memiliki anak bernama RAJA TANTAN DEBATA, dan anak dari Tantan Debata inilah disebut SI RAJA BATAK, YANG MENJADI LELUHUR ORANG BATAK DAN BERDIAM DI SIANJUR MULA MULA DI KAKI GUNUNG PUSUK BUHIT!

SEJARAH BATAK

Filed under: Uncategorized — jatibeningcorpsegrinder @ 5:55 pm

Versi sejarah mengatakan Si Raja Batak dan rombongannya datang dari Thailand, terus ke Semenanjung Malaysia lalu menyeberang ke Sumatera dan menghuni Sianjur Mula Mula, lebih kurang 8 km arah Barat Pangururan, pinggiran Danau Toba sekarang. Versi lain mengatakan, dari India melalui Barus atau dari Alas Gayo berkelana ke Selatan hingga bermukim di pinggir Danau Toba.

Diperkirakan Si Raja Batak hidup sekitar tahun 1200 (awal abad ke-13). Raja Sisingamangaraja XII salah satu keturunan Si Raja Batak yang merupakan generasi ke-19 (wafat 1907), maka anaknya bernama Si Raja Buntal adalah generasi ke-20.

Batu bertulis (prasasti) di Portibi bertahun 1208 yang dibaca Prof. Nilakantisasri (Guru Besar Purbakala dari Madras, India) menjelaskan bahwa pada tahun 1024 kerajaan COLA dari India menyerang SRIWIJAYA yang menyebabkan bermukimnya 1.500 orang TAMIL di Barus.

Pada tahun 1275 MOJOPAHIT menyerang Sriwijaya, hingga menguasai daerah Pane, Haru, Padang Lawas. Sekitar rahun 1.400 kerajaan NAKUR berkuasa di sebelah Timur Danau Toba, Tanah Karo dan sebagian Aceh.

Dengan memperhatikan tahun tahun dan kejadian di atas diperkirakan:

* Si Raja Batak adalah seorang aktivis kerajaan dari Timur Danau Toba (Simalungun sekarang), dari Selatan Danau Toba (Portibi) atau dari Barat Danau Toba (Barus) yang mengungsi ke pedalaman, akibat terjadi konflik dengan orang-orang Tamil di Barus. •Akibat serangan Mojopahit ke Sriwijaya, Si Raja Batak yang ketika itu pejabat Sriwijaya yang ditempatkan di Portibi, Padang Lawas dan sebelah Timur Danau Toba (Simalungun).

* Sebutan Raja kepada Si Raja Batak diberikan oleh keturunannya karena penghormatan, bukan karena rakyat menghamba kepadanya.

Demikian halnya keturunan Si Raja Batak seperti Si Raja Lontung, Si Raja Borbor, Si Raja Oloan, dsb. Meskipun tidak memiliki wilayah kerajaan dan rakyat yang diperintah.

Selanjutnya menurut buku TAROMBO BORBOR MARSADA anak Si Raja Batak ada 3 (tiga) orang yaitu : GURU TETEABULAN, RAJA ISUMBAON dan TOGA LAUT. Dari ketiga orang inilah dipercaya terbentuknya Marga-marga Batak.

Sumber:

disarikan dari buku “LELUHUR MARGA MARGA BATAK, DALAM SEJARAH SILSILAH DAN LEGENDA” cet. ke-2 (1997) oleh Drs Richard Sinaga, Penerbit Dian Utama, Jakarta.

October 14, 2008

Hello world!

Filed under: Uncategorized — jatibeningcorpsegrinder @ 5:08 am

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Theme: Rubric. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.